Selasa, 07 Januari 2014

Tips Cara Mendidik Anak : Pekerjaan Lawan Bermain

Tips cara mendidik anak kali ini adalah bagaimana membedakan antara bekerja dan bermain. Dalam masyarakat banyak dewasa ini, anak tidak mempunyai gambaran sedikitpun mengenai apa artinya bekerja.  Tampaknya banyak remaja yang tidak mengetahui cara mendapatkan pekerjaan serta mempertahankannya.   Mereka juga tidak menyadari tanggungjawab yang menyertai pekerjaan.  Kian hari tampaknya kian banyak kedua orang tua yang bekerja, sehingga waktu bermain semakin sedikit, baik bagi orang tua maupun anak.  Hal ini dapat menciptakan berbagai masalah.

Permainan yang bebas, tidak terlarang dan terbuka diperlukan bagi perkembangan masa kanak-kanak yang sehat.  Disamping itu, anak membutuhkan banyak permainan semacam itu.  Namun demikian, anak juga perlu mengembangkan etika kerja sebagai persiapan bagi tanggung jawab di masa dewasa kelak.

Apabila orang tua dalam kehidupan mereka sendiri merancukan hubungan antara pekerjaan dan permainan, bagaimana mereka dapat membantu anak menghadapi permasalahan ini ?.  Namun bagaimana hubungan antara pekerjaan dan permainan ?.

Permainan adalah segala sesuatu yang dikerjakan karena ia menyukainya.
Pekerjaan adalah segala sesuatu yang dikerjakan orang tanpa memandang perasaannya.
Kedua definisi sederhana ini dipenuhi implikasi yang mendalam.  Anda bekerja atau bermain tergantung pada perasaan Anda saat itu, bukan tergantung pada apa yang dilakukan.

Pernahkah Anda merasakan kepuasan yang besar seusai mengerjakan sesuatu yang menurut orang lain tidak menyenangkan untuk dikerjakan ?.  Apabila kita menyukai apa yang kita lakukan, maka pekerjaan tersebut akan lebih merupakan permainan ketimbang pekerjaan.

Inilah yang membedakan antara orang yang gila kerja dan pekerja keras.  Perbedaannya terletak pada perasaan mereka terhadap apa yang dikerjakan dan bukan pada waktu yang disediakan untuk itu.  Seberapa rumitnyapun suatu pekerjaan, apabila “mudah” dikerjakan, akan terasa sebagai permainan ketimbang pekerjaan.  Orang yang sangat sukses mendapatkan banyak kepuasan dari apa yang dikerjakannya tanpa memandang ganjaran materi yang diterimanya.


Senin, 06 Januari 2014

Cara Mendidik Anak Agar Percaya Diri : Mengakui Kemampuan Anak

Cara mendidik anak agar percaya diri salah satunya adalah dengan mengakui kemampuan anak dan menganggap anaknya kompeten dalam melakukan sesuatu.  Mengukur kemampuan seorang anak itu sulit.  Kadang-kadang anak bersikap seakan-akan tidak menggunakan akalnya atau otaknya; tetapi di lain waktu ia bertindak sedemikian bijaknya sehingga kita tidak dapat membayangkan dimana ia mempelajarinya.

Adakalanya kita memiliki kesabaran untuk mengajarkan suatu proses yang rumit kepada anak (seperti merapihkan tempat tidur); pada saat lain kita berharap ia akan mempelajari sendiri caranya.  Kadangkala kita memperlakukan anak seakan-akan ia sebuah boneka; pada kesempatan lain kita berharap ia memahami sesuatu yang kurang begitu kita pahami.

Tingkat kemampuan seorang anak selama masa perkembangan sulit ditentukan, karena performanya tidak konsisten.  Hal itu selanjutnya dihambat oleh sikap orang tua yang mengaburkan kemampuan anak yang sebenarnya.

Apakah Anda menginginkan anak untuk bersikap tidak kompeten ?.   Ada orang tua yang menginginkan anak mereka selamanya tergantung pada mereka supaya mereka merasa selalu dibutuhkan.  Adapula orang tua yang membutuhkan anak mereka bersikap kompeten, dengan demikian mereka sendiri akan merasa lebih kompeten.  

Sementara orang tua lain terlalu takut untuk mempercayai kemampuan anak, karena hal itu mengharuskan mereka membiarkan anak anak melakukan perbuatan yang mungkin membahayakan.  Orang tua lain tidak dapat membayangkan kemungkinan anak mereka lebih kompeten daripada mereka sendiri.  Ada banyak alasan mengapa orang tua perlu beranggapan bahwa anak mereka tidak kompeten.

Sebagian besar orang tua yang mempunyai masalah ini tidak mau mengakui bahwa mereka menganggap anak tidak kompeten.  Mereka menutupi anggapan ini dengan menyatakan bahwa anak mereka benar-benar kompeten, tetapi terlalu malas untuk hidup sesuai dengan potensinya ! Atau mereka beranggapan bahwa ia tidak kompeten sehingga orang tua tidak akan menuntut  terlalu banyak darinya.  Sebagian besar orang tua merasakan bahwa anak tidak cukup kompeten dalam hal mengurus diri.  Mereka mengutarakannya secara halus atau terang-terangan kepada anak.

Hasilnya anak yang dibuat merasa tidak kompeten berpikir bahwa orang tuanya meragukan kemampuannya.  Pada gilirannya, hal ini cenderung membuat anak meragukan dirinya.  Itu tidak sulit dipahami.  Hal seperti ini mungkin telah terjadi pada kita semua pada waktu tertentu.  Orang tua yang meragukan kemampuan anak mereka bisa jadi mendapat perlakuan yang sama dari salah seorang atau kedua orang tuanya.

Ciri-ciri Orang Tua Yang Menganggap Anak mereka Tidak Kompeten

·         Mereka tidak menyuruh anak melakukan apa saja yang dapat mengembangkan kemampuannya semaksimal mungkin.

·         Bilamana anak mencoba mengerjakan sesuatu yang baru dan gagal, ia tidak diberi waktu untuk membenahi diri dan menemukan jalan keluar dari kesulitan.

·         Orang tua menawarkan bantuan sebelum anak memintanya.

·         Orang tua tidak meluangkan waktu untuk mengajarkan ketrampilan baru yang rumit kepada anak.  Mereka beranggapan mengajarkan keterampilan baru yang rumit tidak bermanfaat.

·         Setelah semakin sering melihat bukti ketidak mampuan anak (anak bertingkah sebagaimana diharapkan orang tua), maka orang tua menjadi terlalu protektif dan membayangkan prospek hidup anaknya bahwa ia tidak akan mampu mengurus dirinya sendiri.

Cara mendidik anak agar percaya diri adalah dengan menganggap anaknya kompeten dalam melakukan sesuatu.

Ciri-ciri Orang Tua Yang Menganggap Anaknya Kompeten

·         Mereka tidak akan mendampingi anak sambil menanti kalau-kalau ada yang tidak beres.  Bilamana anak membuat kesalahan atau upayanya gagal, mereka lebih ingin mengetahui apa yang telah dipelajari anak ketimbang bagaimana mengoreksi anak.  Mereka bisa mengamati bagaimana anak berjuang  tanpa merasa harus ikut turun tangan.

·         Mereka tidak mencemaskan masa depan, maka mereka tidak menularkan kecemasan itu pada anak.
·         Mereka meminta anak mengerjakan sesuatu yang mungkin sulit tetapi masih mungkin dikerjakan anak sesuai dengan taraf perkembangan jasmani dan intelektualnya.

Meskipun Anda menganggap anak Anda kompeten, bukan berarti Anda dapat mengharapkannya berhasil mengerjakan segala hal.  Tidak seorangpun dapat berhasil dalam semua hal.  Salah satu ciri anak yang kompeten yaitu mampu belajar dari kesalahan.

Orang tua yang baik akan menerapkan cara mendidik anak agar percaya diri, ia selalu berpendapat bahwa anak mereka dapat belajar dari kesalahannya sendiri, cepat atau lambat, meyakinkan anak bahwa ia mampu.  Sifat yang sangat baik untuk dibawa sampai ia dewasa


Cara Mendidik Anak Yang Baik Dalam Keluarga : Pahami Cara Anak Mengatasi Masalah

Cara mendidik anak yang baik dalam keluarga salah satunya adalah memahami bagaimana cara anak mengatasi masalah.  Cobalah Anda perhatikan anak Anda. Umumnya anak-anak sangat banyak akalnya apabila diberi kesempatan memecahkan masalah tanpa campur tangan orang tua.  Anak cenderung memecahkan masalah dengan cara berhasil atau gagal; sambil mencari pemecahan yang bermanfaat, karena ia tidak mencari  pemecahan yang “tahan lama”.  Maka pemecahan yang seringkali diajukannya adalah konkret dan seketika, walaupun mungkin bukan merupakan jalan keluar yang “tepat” menurut pandangan orang tua.

Akan tetapi anak tidak peduli apakah pemecahan tersebut benar atau tidak; melainkan hanya apakah akan berhasil atau tidak.  Tetapi apabila orang tua mendesak anak agar mencari jalan keluar yang benar dan menolongnya mencari, anak secara tiba-tiba meragukan kemampuannya memecahkan masalah.

Bilamana anak meragukan dirinya, ia menghendaki bantuan orang dewasa.  Ia tidak hanya meminta, bahkan menuntut, merengek, menangis sambil marah-marah dan meyakinkan orang dewasa bahwa ia tidak cukup mampu mengurus diri.

Cara Mendidik Anak Yang Baik Dalam Keluarga : Mengetahui Kapan Harus Membantu

Bagaimana cara mengetahui bilamana anak membutuhkan bantuan ?.  Salah satu cara terbaik untuk mengetahuinya setelah anak belajar berbicara adalah dengan menanyainya.  Anak yang merasa percaya diri akan sering mengatakan bahwa ia tidak butuh bantuan.  Ia mungkin menemukan jalan keluar yang dapat memecahkan masalahnya sesuai dengan standar yang ditetapkan bagi dirinya.  Ia mempelajari standar yang lebih tinggi dari mengawasi orang lain memecahkan masalah dengan hasil yang lebih baik. Standar akhirnya mencerminkan standar yang Anda praktekkan, dan tidak mendekati standar yang Anda katakan.

Apabila Anda menginginkan anak memiliki standar mutu yang tinggi, milikilah sendiri terlebih dahulu.  Tetapi harap bersabar ! Anak akan berupaya mencapai standar tersebut lebih lambat dari yang Anda kehendaki.  Setidaknya bersyukurlah sebab ia mau berupaya.

Apabila anak mengatakan bahwa ia membutuhkan bantuan, maka pertanyaan selanjutnya yang harus ditanyakan adalah, “Bantuan apa yang kau inginkan dari saya ?”.  Anak yang berpengalaman dalam meminta bantuan biasanya akan mempunyai jawaban yang masuk akal.  Anak yang terlalu banyak dibantu mengalami kesulitan menjawab, karena ia belum menganalisis apa yang dibutuhkannya untuk menyebutkan sumber daya yang tidak dapat disediakannya sendiri.

Apabila Anda menanyai anak mengapa ia ingin dibantu, Anda juga berhak merundingkan apabila permintaannya terlalu banyak.  Anak perlu mengetahui sejak usia dini bahwa ia tidak selalu mendapatkan bantuan sewaktu ia menghendakinya.  Dengan bersikap selektif menolong, anak Anda akan belajar mempunyai lebih banyak akal.

Kadang-kadang anak mencoba mencari jalan keluar bagi masalah yang terlalu rumit bagi ketrampilannya.  Satu atau dua hal akan terjadi.  Ia akan memutuskan bahwa masalah tersebut tidak cukup berarti baginya untuk membuatnya bingung, lalu ia mencari kegiatan lain.  Kemungkinan lain ia akan memperlihatkan rasa frustasi dan rasa tidak senangnya.

Dalam hal pertama, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa menghindari masalah bukanlah bukti kelemahan karakter.  Anak yang sehat akan menemukan banyak hal untuk dilakukan.  Mengapa anak tidak berhak memutuskan bahwa sesuatu tidak cukup penting untuk membuatnya kebingungan ? Padahal orang tua selalu bersikap seperti itu.

Apabila anak nampak frustasi, tanyakan kepadanya apakah ia ingin dibantu.  Ia mungkin mengatakan tidak, tetapi terus merasa frustasi dan tidak menemukan jalan keluar.  Setelah frustasi bertumpuk, sebagian besar orang tua akan campur tangan untuk membantu memecahkannya serta mengobati rasa frustasinya. 

Orang tua yang lebih baik hanya akan mengingatkan anak bahwa mereka bersedia membantu apabila ia mau.  Orang tua yang lebih baik memberi anak kesempatan untuk belajar minta tolong dan memantau kemampuan anak mengatasi frustasi.  Orang tua yang lebih baik dapat menahan diri untuk tidak memperlihatkan keresahan mereka sewaktu menyaksikan anak menderita akibat masalah yang berat.

Meminta bantuan adalah keterampilan yang kompleks dan dibutuhkan waktu lama untuk melakukannya dengan baik.  Yang sering terjadi adalah orang meminta pertolongan disaat ia tidak membutuhkannya atau sebaliknya ia tidak memintanya pada waktu membutuhkannya.  Oleh karenanya akan lebih baik mempelajari keterampilan ini secara efektif sejak usia dini dan dalam hal ini diperlukan cara mendidik anak yang baik dalam keluarga.


Anak dapat mempelajarinya asalkan Anda dapat menahan diri dengan tidak membantunya kecuali bila ia meminta secara khusus.  Apabila Anda berbuat demikian, Anda akan melihat perilaku anak akan berubah secara dramatik.  Ia menjadi lebih mandiri, percaya diri dan tidak begitu merepotkan Anda.

Kesalahan Dalam Mendidik Anak : Bersikap Suka Menolong Adalah Tidak Menolong

Kesalahan dalam mendidik anak yang dilakukan oleh orang tua pada umumnya adalah sikap suka menolong.  Para orang tua yang memiliki hasrat “menolong” yang kuat kepada anak beresiko melumpuhkan anak mereka secara emosional.  Kunci persoalannya adalah sewaktu orang tua melakukan sesuatu bagi anak yang sebenarnya dapat ia lakukan dan seharusnya ia lakukan sendiri, mereka membuat anak tidak berwenang. 

Bantuan yang Anda tawarkan seharusnya hanya diberikan apabila ia meminta dengan sepantasnya dan selanjutnya diarahkan untuk membantu anak menggunakan kemampuannya sendiri dalam menolong dirinya.

Disinilah inti persoalannya.  Sifat suka menolong tidaklan menolong apabila diberikan dengan tujuan memuaskan kebutuhan orang tua untuk menolong ketimbang kebutuhan anak untuk mencapai tujuan tertentu.  Meskipun orang tua mengharapkan anak benar-benar mampu mengurus dirinya, mereka akan sangat gelisah apabila anak tidak meminta atau menerima bantuan mereka secara cukup teratur. 

Terus menerus “membantu” anak membuatnya kehilangan kesempatan mengembangkan kecakapan.  Anak akan menderita akibat peran orang tua yang terlalu berlebihan, sama seperti apabila ia kekurangan hal itu.  Inilah salah satu kesalahan dalam mendidik anak para orang tua pada umumnya.

Membantu Anak Terlalu Banyak Membuat Anak Merasa Tidak Berwenang

Menumbuhkan perasaan bahwa ia dapat  mengendalikan hidupnya sendiri adalah penting bagi anak.  Tanpa adanya perasaan ini, orang tidak dapat membuat keputusan, memikul tanggung jawab, mengembangkan kemampuan atau bertindak penuh keyakinan dalam dunia yang penuh persaingan.  Sayangnya, dibanding sebelumnya kini lebih banyak anak yang nampaknya tumbuh tanpa memiliki rasa percaya diri.  Mereka adalah anak-anak dari orang tua yang tidak mau menumbangkan rasa berkuasa mereka.

Pengetahuan praktis diperoleh lewat proses coba dan ralat.  Itulah informasi yang kita perlukan untuk mengerjakan urusan hidup sehari-hari.  Sewaktu mempelajari pengetahuan ini, seringkali anak melakukan kesalahan, yang tentunya wajar saja.  Belajar dari mengerjakan sendiri dan dari pengalaman sendiri adalah cara terbaik.  Percaya atau tidak, anak banyak belajar dari keharusan melakukan tugas duniawi, seperti merapihkan sendiri barangnya yang berantakan, menyimpan sendiri barangnya, mengurus binatang peliharaan,berpakaian sendiri, mandi, menyikat gigi.

Dengan kata lain, semua hal kecil dalam hidup yang dianggap sebagian besar orang sudah selayaknya atau otomatis dikerjakan.  Bilamana orang tua mengerjakan semua itu untuk anak mereka, berarti mereka menghambat perkembangan kemampuan anak, dan beresiko meruntuhkan rasa percaya diri anak.  Orang yang tidak kompeten tidak mempunyai rasa percaya diri dan cenderung menghindar melakukan apa saja karena ia takut gagal. 


Sudah seharusnya para orang tua menyadari kesalahan dalam mendidik anak ini, dan merubah sikapnya demi kebaikan anak mereka kelak.

Cara Mendidik Anak Yang Baik Sejak Dini : Mengajarkan Anak Menolong Dirinya Sendiri

Cara mendidik anak yang baik sejak dini salah satunya adalah dengan mengajarkan anak untuk menolong dirinya sendiri.  Apabila orang tua merasa bahwa mereka seharusnya bertanggung jawab mengerjakan segala sesuatu untuk anak, maka anak mereka mungkin tidak pernah belajar bertanggung jawab pada dirinya sendiri.  Pertanyaannya adalah : Seberapa banyakkah yang seharusnya Anda lakukan untuk anak, dan sebarapa banyakkah yang seharusnya Anda harapkan anak melakukan untuk dirinya sendiri?.

Orang tua yang lebih baik adalah orang tua yang berbuat lebih sedikit untuk anak mereka, dan membiarkan anak memikul tanggung jawab atas dirinya sendiri.  Cara mendidik anak yang baik sejak dini ini sudah seharusnya dipahami dan diterapkan oleh orang tua.

Berikut ini contoh yang menunjukkan bahwa lebih sedikit berarti lebih banyak !.

Jangan Biarkan Rasa Bersalah Menguasai Diri Anda

Orang tua yang baik menginginkan anaknya menikmati keceriaan masa kanak-kanaknya yang umumnya berarti banyak bermain dan sedikit bekerja.  Orang tua yang merasa seperti ini beranggapan bahwa tidak lama lagi anak akan menghadapi dunia kerja dan tanggung jawab yang “sebenarnya”.  Biarlah anak menikmati masa kanak-kanaknya!.  Tidaklah mengherankan apabila banyak orang tua yang membesarkan anak dengan cara seperti ini, karena mereka sendiri tidak menikmati masa kanak-kanak mereka.

Banyak orang tua yang merasa bersalah mengenai apa yang mereka lakukan sebagai orang tua.  Perasaan bersalah ini dapat timbul dari masa kanak-kanak yang kurang bahagia atau rasa tidak suka terlalu cepat atau terlalu lama terperangkap dalam peran sebagai orang tua.  Orang tua yang merasa bersalah cenderung memberikan kompensasi yang berlebihan atas rasa bersalah mereka dengan melakukan segala macam tindakan yang sebenarnya tidak perlu bagi anak.

Lebih Mudah Apabila Saya Kerjakan Sendiri

Perangkap yang paling menonjol adalah “lebih mudah apabila saya kerjakan sendiri”.  Orang tua yang mengambil alih tanggung jawab yang seharusnya dipikul anak, menggunakan pembenaran ini.  Hal ini  seringkali didorong oleh perasaan bersalah.  Mereka mungkin orang yang perfeksionis yang masih tetap ingin menyenangkan hati orang tua mereka, padahal mereka sudah tidak lagi tinggal bersama. 

Mereka menghindari konfrontasi dan perselisihan, dan merasa ada sesuatu yang tidak beres pada diri mereka apabila marah.  Orang tua seperti ini tidak suka melihat orang lain menderita, karena itu mereka merasa telah berbuat salah apabila orang-orang di sekeliling mereka tidak selamanya selalu bahagia (ada kalanya terjadi demikian), maka mereka mengerjakan sesuatu bagi orang lain untuk menunjukkan kemampuan mereka. Motif di atas bukanlah motif yang baik, tetapi ada kalanya orang tua menderita karena semua itu.  Tidak apa-apa untuk mengetahui bahwa Anda   juga berbuat demikian : Anda tidak sendirian !.

Ada ungkapan yang sering digunakan sebagian besar orang tua untuk mengutarakan sesuatu yang telah lama dideritanya akibat terlalu berlebihan dalam berperan sebagai orang tua.  “Hal-hal yang saya lakukan adalah untuk anak saya”, “Tidak punya waktu untuk diri saya sendiri”, “Sekarang kebutuhan akan semakin bertambah”, “Banyak waktu saya dihabiskan di mobil untuk mengantar mereka”.  Tema dari semua pesan di atas adalah, “Apabila saya tidak melakukan hal ini untuk anak-anak saya, mereka akan gagal dan saya akan dianggap sebagai orang tua yang kurang perhatian”. Orang tua merasa bersalah karena mereka kurang berbuat banyak untuk anak.     

Ungkapan rasa bersalah orang tua yang halus dan tidak kentara ini menjadi pembenaran bahwa melakukan sesuatu untuk anak adalah membantu.  Orang tua yang menggunakan pembenaran ini senang beranggapan bahwa mereka memberikan teladan yang baik kepada anak supaya anak juga belajar menjadi orang yang suka menolong. 


Pada kenyataannya, anak Anda sebenarnya belajar bahwa meskipun ia tidak melakukan apa-apa sebagai alasan, orang tetap melakukan sesuatu untuknya.  Ini tentu bukan pemahaman yang Anda inginkan untuk dipetik anak Anda.  Dan Anda seharusnya memahami dan menerapkan cara mendidik anak yang baik sejak dini.

Mendidik Anak Yg Baik : Anak Anda Harus Menganggap Anda Lebih “Aneh” Daripada Dirinya

Mendidik anak yg baik adalah dengan menjadi orang tua yang “aneh”.    Bahkan anak Anda harus merasa bahwa orang tuanya lebih “aneh” daripada dirinya.  Mengapa ?. Apabila anak beranggapan bahwa dirinya lebih “aneh” daripada Anda, maka ia cenderung menyimpulkan bahwa ada yang tidak beres dengan dirinya, terutama apabila Anda suka mengkritik atau menilainya.  Hal ini sudah dapat dirasakannya bahkan ketika anak masih sangat kecil.  Apabila ia seringkali dikoreksi, ia mungkin menyimpulkan bahwa ada yang tidak beres pada dirinya karena ia jarang sekali benar.

Selama beberapa tahun sebelum ia mempunyai sudut pandang sendiri, ia mungkin tidak menyimpulkan bahwa orang tuanya “aneh”.  Apabila orang tuanya “aneh”, anak cenderung menerimanya tanpa bertanya dan menikmati keuntungannya.

Pada usia dini anak dari orang tua yang “aneh” mungkin mengembangkan ke”aneh”annya sendiri yang menjadi bagian dari jati dirinya yang “aneh”.   Pada waktu anak menyadari bahwa orang tuanya “aneh”, keunikan yang dimilikinya mungkin telah terpateri kuat.  Ia juga menyadari cara menghadapi ke”aneh”an orang tuanya.

Mendidik anak yg baik adalah dengan menjadi orang tua yang “aneh”.  Banyak anak yang merasa ada yang tidak beres pada diri mereka.  Beberapa diantaranya berasal dari keluarga baik-baik, dan kesalahan utama orang tua mereka adalah mengatakan secara halus bahwa berbeda itu merupakan suatu kekurangan.  Anak yang memiliki orang tua yang “aneh” tidak memiliki masalah ini.

Mendidik anak yg baik adalah dengan menjadi orang tua yang “aneh”.  Orang tua yang “aneh” memperbolehkan anaknya jadi berbeda tanpa merasa memiliki kelainan.  Bukanlah awal yang buruk apabila Anda menghendaki anak Anda melakukan sesuatu yang berbeda, kreatif atau lain dari biasa dalam hidupnya.

Cara Menjadi Orang Tua Yang “aneh”

·         Carilah waktu untuk mengekspresikan hal yang sangat Anda minati.  Apabila Anda tidak mempunyai sesuatu yang sangat Anda minati, carilah terus.

·         Dibandingkan dengan kehidupan Anda yang tidak terlihat dari luar, niat, harapan dan perasaan Anda, maka perilaku Anda kurang berarti sebagai pedoman bagi masa depan anak.

·         Selalu lakukan atau katakan sesuatu di dekat anak yang tidak diharapkannya dari Anda.  Biarkan diri Anda bersikap “tidak biasa”.

·         Luangkan waktu sebanyak mungkin dengan anak satu persatu, sehingga Anda lebih mudah bersikap apa adanya tanpa harus menyesuaikan diri dengan orang banyak.

·         Bicarakan dengan anak hal-hal lain yang menarik Anda, meskipun tampaknya tidak dipahami anak.  Anda tidak pernah tahu apa yang diserap olehnya.  Perlihatkan perasaan Anda kepada anak terhadap hal-hal yang menarik Anda kepada anak.

·         Peganglah teguh kepercayaan Anda, tetapi jangan haruskan anak mempercayai hal yang sama.  Ini tidak mudah.  Akan tetapi, hal ini dapat dilakukan apabila Anda bersedia berdebat dengan anak mengenai hal yang Anda yakini, seakan-akan berdebat dengan orang dewasa yang tidak dapat Anda kendalikan.  Jangan menghukumnya karena memiliki keyakinan yang berbeda, semua itu hanyalah buah pikiran.

·         Jangan menertawakan hal yang dianggap serius oleh anak.

·         Milikilah penyaluran kreatif seperti seni, musik, mengarang, merajut, dan lain-lain yang dapat dilihat anak sewaktu Anda mengerjakannya.

·         Biarlah anak melihat perasaan Anda.  Perasaan tidak perlu selalu hanya yang positif saja.  Amarah, kejengkelan, kebingungan dan sejumlah perasaan lainnya adalah emosi yang anak harus belajar mengatasinya.


·         Pahamilah bahwa proses menjadi dewasa itu ganjil, tidak konsisten dan tidak rutin.  Anda tidak akan menyaksikan perkembangan yang manis, rapi, mulus pada anak Anda.  Jangan merasa cemas.  Bilamana Anda menyukai diri Anda sendiri, maka cepat atau lambat anak akan menyukai dirinya pula.

Minggu, 05 Januari 2014

Bagaimana Mendidik Anak : Orang Tua Yang “aneh” Menerima Anak Sebagaimana Adanya

Bagaimana mendidik anak agar anak merasa diterima sebagaimana adanya ?.  Bagi seorang anak, menemukan seseorang yang mau menerima dirinya sebagaimana adanya adalah sesuatu yang istimewa, karena hal itu tidak banyak terjadi pada banyak orang yang dikenalnya.  Seringkali, orang tua menyampaikan harapan yang tidak terucap bahwa apapun yang telah dikerjakannya sebenarnya dapat dikerjakan lebih baik lagi.

Guru selalu menyuruhnya mengerjakan sesuatu yang kurang begitu dipahami caranya.  Temannya selalu mencoba menunjukkan bahwa mereka lebih baik darinya dalam hal tertentu.  Kakak kandungnyapun mencoba membuatnya tetap berada di posisinya.

Bagaimana mendidik anak agar anak merasa diterima sebagaimana adanya ?. Yaitu dengan menjadi orang tua yang “aneh”.  Orang tua yang sedikit “aneh” mampu menerima diri mereka sendiri sebagaimana adanya.  Kemampuan ini sering mereka tularkan kepada anak mereka.  Sebagai contoh, beberapa orang tua tidak begitu menaruh perhatian pada prestasi anak di sekolah.  Mereka menerima begitu saja prestasi anak. 

Bagaimana mendidik anak agar anak merasa diterima sebagaimana adanya ?. Yaitu dengan menjadi orang tua yang “aneh”.  Orang tua yang “aneh” tidak suka memberikan penilaian kepada anak, sehingga anak tidak takut dikecam orang tua.  Penerimaan ini bukan berarti anak dapat berbuat sesuka hati.  Orang tua yang “aneh” tidak menerima begitu saja semua hal.  Sebagai contoh, mereka tampaknya tidak mempedulikan prestasi anak di sekolah, tetapi marah melihat perilaku yang kurang pantas.

Sebagai orang tua, Anda seringkali dihadapkan pada dilema apakah akan menerima anak sebagaimana adanya atau memaksanya berubah ke arah yang “positif”.  Apakah hasil kerja anak telah cukup baik atau sebaiknya Anda memberitahunya cara yang seharusnya dilakukan supaya hasilnya lebih baik ? Apa saja yang Anda terima pada diri anak dan apa yang hendak coba diubah ? Tidak ada jawaban yang baik dan konsisten untuk dilema ini dan yang bermanfaat dalam interaksi yang terjadi setiap hari.

Bagaimana mendidik anak agar anak merasa diterima sebagaimana adanya ?. Yaitu dengan menjadi orang tua yang “aneh”.  Orang tua yang “aneh” cenderung lebih mau menerima anak sebagaimana adanya, terutama di bidang mana anak memperlihatkan ciri yang “aneh”.  Bidang ini mungkin merupakan bidang yang diminatinya secara khusus atau sangat digemarinya.  Kegemaran ini di masa kanak-kanak seringkali merupakan awal dari panggilan hidupnya sewaktu dewasa dan menghasilkan prestasi yang menonjol.


Pengalaman adanya penerimaan oleh orang tua merupakan sebab mengapa banyak orang “aneh” yang membiarkan dirinya mengembangkan bakat atau keterampilan yang unik sebagai orang dewasa.  Agar dapat menerima anak sebagaimana adanya, Anda harus menerima segala sesuatu yang mungkin “aneh” pada diri Anda.