Kamis, 09 Januari 2014

Cara Mendidik Anak Sejak Dini : Meningkatkan Harga Diri

Cara mendidik anak sejak dini yang patut dilakukan oleh orang tua salah satunya adalah memiliki harga diri yang tinggi.  Harga diri adalah masalah yang rumit dan populer; tetapi dalam berperan sebagai orang tua, hal ini menjadi fakta yang sederhana, apabila Anda tidak memiliki harga diri tinggi, anak Anda juga tidak akan memilikinya.

Sudah sepantasnya apabila sebagian besar orang tua yang baik memprihatinkan harga diri anak dan berbuat apa saja untuk memperbaikinya.  Untuk memperbaiki harga diri anak, umumnya orang tua harus terlebih dahulu berbuat sesuatu bagi harga diri mereka sendiri.   Sebenarnya tidak demikian.  Apabila Anda dapat meningkatkan harga diri Anda sedikit saja, berarti harga diri Anda cukup baik.  Dan apabila Anda seperti kebanyakan orang dewasa yang harga dirinya tidak begitu tinggi, melakukan sesuatu bagi diri sendiri dampaknya terhadap diri anak akan sungguh dramatis.

Apakah Itu Harga Diri ?

Ada yang mendefinisikan harga diri adalah “pengalaman menjalani hidup dengan perasaan nyaman dan puas”.  Kenyamanan dan kepuasan adalah perasaan yang sangat menyenangkan.  Definisi di atas tidak menyebutkan tentang menyukai diri yang positif, karena orang yang banyak merasakan kenyamanan dan kepuasan tidak memikirkan apakah ia menyukai dirinya sendiri.  Ia sibuk menyukai orang lain, benda dan tempat yang berinteraksi dengannya.

Orang dengan harga diri rendah cenderung lebih sering memikirkan mengapa ia merasa sedih, sedangkan orang yang memiliki harga diri tinggi memikirkan hal lain yang dapat menyenangkan dirinya.

Harga diri adalah pengalaman yang nyaman dan memuaskan, situasi batin yang nyaman dan konteks emosional yang merupakan asal dari tindakan penuh keyakinan.  Cara terbaik untuk meningkatkan harga diri Anda adalah mencari lebih banyak pengalaman yang memberikan kenyamanan dan kepuasan.  Bagi orang tua, hal itu berarti meningkatkan kepuasan yang didapatkan dari peran sebagai orang tua dan kehidupan keluarga pada umumnya.  Dalam hal cara mendidik anak sejak dini ini peran orang tua sangat diperlukan untuk meningkatkan harga diri anak.


Banyak orang tua yang tidak mendapatkan banyak kepuasan dari kehidupan keluarga.  Orang tua yang lebih baik adalah orang tua yang benar-benar membuat anak mampu merasakan kepuasan seperti ini juga.  Ada banyak sebab mengapa orang sulit mendapat kepuasan dari kehidupan keluarga.  Untuk membahas semua penyebabnya diperlukan sebuah buku tebal, padahal banyak buku telah mengulas hal tersebut.

Rabu, 08 Januari 2014

Hadiah Anak : Sesuatu Sebagai Imbalan Dari Yang Lain

Hadiah anak atau imbalan atau sesuatu ditukar dengan sesuatu, adalah aturan yang baik untuk dimiliki dalam bisnis dan kehidupan pribadi.  Terlalu banyak orang yang tidak mengetahui bahwa setiap penerimaan mengharuskan adanya pemberian.  Banyak orang yang tidak mengetahui cara meminta apa yang mereka perlukan karena tidak yakin akan kemampuan mereka menjaga agar segala sesuatu berlangsung wajar dan layak dengan orang lain.  Banyak orang yang tidak yakin akan mendapatkan sumber daya yang dibutuhkannya untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai.

Anak yang belajar membalas suatu bantuan mendapatkan keterampilan yang sangat bermanfaat.  Hal itu adalah satu sifat penting yang diperlukan untuk belajar bertanggung jawab.  Anak tidak mempelajari tanggung jawab dari belajar mengerjakan hal yang dibencinya.

Kesediaan memikul tanggung jawab adalah didasarkan atas pengalaman seseorang sewaktu muda yang mendapatkan kepuasan dari berbuat demikian.  Sumber kepuasan utama seorang anak adalah kenyamanan yang dirasakannya dalam hubungan antar manusia yang berjalan dengan baik.  Hubungan antar manusia yang terpenting adalah hubungan antara orang tua dan anak.  Selama seseorang tetap mempunyai kekurangan, sulit baginya untuk mencapai kepuasan hidup.

Kepuasan Anda sebagai orang tua tergantung pada perasaan yang Anda dapatkan sebagai balasan dari apa yang Anda berikan.  Orang tua seringkali merasa gagal bilamana anak mereka egois, egosentris dan tidak mampu membalas bantuan yang dilimpahkan atas dirinya.  Sebagian besar orang tua merasa telah memberi jauh lebih banyak daripada yang mereka terima.  Biasanya, orang tualah yang telah menciptakan situasi ini.

Melakukan sesuatu bagi anak yang sebenarnya mampu dilakukan sendiri tanpa mendapatkan imbalan atau hadiah untuk anak, biasanya menimbulkan rasa bersalah dan kebencian dalam suatu hubungan.   Hanya karena Anda meminta sesuatu sebagai imbalan sewaktu mengerjakan sesuatu bagi anak Anda bukan berarti bahwa Anda adalah orang tua yang egois.  Sebaliknya,  Anda memperlihatkan kepada anak bagaimana “memberi dan menerima” berlangsung dalam kehidupan nyata.


Menjadi orang tua hanyalah salah satu peran yang Anda bawakan selama malang melintang dalam hidup.  Kita perlu merasa yakin bahwa menjadi orang tua bukanlah beban yang membuat kita melupakan hal lain yang harus dikerjakan dan merupakan bagian dari kewajiban kita sebagai manusia.

Pendidikan Anak : Seni Mengadakan Persetujuan

Pendidikan anak tidak hanya dalam hal pendidikan formal, namun juga pendidikan informal, yang pengaruhnya sangat besar dalam pembentukan kepribadian seorang anak.  Banyak pendidikan informal yang harus diajarkan orang tua kepada anak, seperti bagaimana mengajarkan tentang kejujuran, bersosialisai, berempati, bekerjasama, dan lain sebagainya. Dan salah satunya adalah bagaimana cara berperilaku yang pantas, yaitu dengan mengadakan persetujuan.

Semua menyukai orang yang tahu membalas budi, menepati janji, memenuhi kontrak dan umumnya menjaga riwayat hidupnya secara wajar dan pantas.  Anak harus mempelajari semua ini yang tidak datang secara alami.

Dengan memiliki panutan dari perilaku etis yang baik, anak lebih mudah mempelajari semua keterampilan yang kompleks tersebut.  Orang tua yang baik biasanya mempunyai standar etika yang tinggi.  Orang tua yang baik mengadakan persetujuan dengan anak mereka untuk mengajarinya cara berperilaku yang pantas.

Membuat persetujuan dengan menjanjikan akan melakukan sesuatu sebagai imbalan dari apa yang dikerjakan anak bagi Anda sama seperti mempertaruhkan kredibilitas Anda.  Kredibilitas Anda diukur dari bagaimana Anda menepati janji.  Dengan membuat persetujuan semacam ini Anda memberinya pelajaran yang penting bagi masa depan anak selanjutnya.  Persetujuan semacam ini juga menciptakan persamaan antara orang tua dan anak, sehingga anak merasa ikut ambil bagian dalam proses menjadi dewasa yang wajar dan dapat dipahami.

Tidak semua hal diantara orang tua dan anak harus dibuat persetujuan.  Hal itu akan tidak masuk akal, karena sebagian besar tanggung jawab bersama terbentuk dalam hubungan itu sendiri.  Sebagian besar kesempatan untuk membuat persetujuan berkisar pada tugas rumah tangga sehari-hari, pekerjaan rumah, pembebasan dari suatu aturan dan meringankan anak dari tugas yang berat, seperti mengantarkannya ke tempat dimana ia dapat naik kendaraan umum atau sepeda.

Persetujuan terbaik adalah persetujuan yang menjadikan suatu tugas tidak begitu menyerupai pekerjaan, membebaskan anak dari kebutuhan membuat rencana dan mengambil keputusan.  Namun demikian, saling menolong dapat memiliki dampak negatif, baik anak maupun orang tua mungkin mengembangkan rasa tidak suka terhadap bantuan dan menyalahgunakannya.

Anda tidak perlu membuat persetujuan setiap kali melakukan sesuatu bagi anak.  Hal itu ibarat menguras kantong untuk setiap pertolongan kecil yang Anda lakukan satu sama lain.  Membuat persetujuan yang paling baik adalah apabila pertolongan satu sama lain menjadi tidak seimbang.

Beberapa anak lebih banyak menolong orang tua daripada balasan yang mereka terima.  Sedangkan sebagian besar orang tua mungkin berbuat lebih banyak untuk anak dibanding yang mereka lakukan untuk orang tua.  Oleh karenanya mulailah membuat persetujuan.

Beberapa Pedoman Membuat Persetujuan Dengan Anak
·         Mengharapkan sesuatu yang benar-benar Anda butuhkan sebagai imbalan atau bantuan yang sesungguhnya, bukan tugas yang disenangi anak.  Menerima pa saja yang mau dilakukan anak memberi kesan bahwa Anda tidak bersungguh-sungguh.

·         Hindari persetujuan “ex post facto”, seperti “kemarin kamu saya antarkan ke rumah temanmu, sekarang kamu harus melakukan sesuatu untuk saya”.  Hal ini akan membuat anak merasa bersalah dan bukan merupakan persetujuan.

·         Suruhlah anak dengan cepat dan segera memenuhi tugasnya yang menjadi bagian dari persetujuan.  Apabila terlalu lama, apa yang telah ditetapkan dalam persetujuan akan terlupakan dan menyimpang.  Anak merasa ia telah berhasil meloloskan diri dari tugas tersebut dan Anda sendiri merasa telah mendapatkan imbalannya.
·         Bilamana anak melakukan sesuatu yang menyenangkan Anda tanpa berusaha mengadakan persetujuan (hal itu adakalanya terjadi), janganlah lupa membalas pertolongannya tanpa komentar dan secepat mungkin.


·         Jagalah agar anak mau bertanggung jawab atas persetujuan yang dibuatnya tanpa menghukumnya apabila ia tidak menunaikan bagiannya.  Sebaiknya konsekuensinya berupa penolakan Anda untuk membuat persetujuan lain dalam waktu dekat.  Batasi kesediaan Anda membantu anak yang tidak mau membalas budi.

Selasa, 07 Januari 2014

Mendidik Anak Disiplin : Membuat Anak Mau Bekerja

Mendidik anak disiplin bukanlah hal yang mudah.  Salah satu hal yang dipermasalahkan orang tua dan anak adalah membuat anak berhenti bermain (sesuatu yang dilakukannya karena disukainya), dan mulai bekerja (sesuatu yang kita perintahkan kepadanya tanpa memandang perasaannya).  Membantu anak melalui transisi ini tanpa perasaan menderita adalah keterampilan yang tampaknya harus dimiliki orang tua yang lebih baik.

Kesediaan untuk bekerja dan kapasitas kita untuk mencapai kepuasan dari pekerjaan tersebut tergantung pada perasaan kompeten yang kita rasakan terhadap tugas tersebut.  Anak yang merasa kompeten tidak berkeberatan bekerja bilamana ia diharapkan bekerja.  Bagi anak seperti ini, meningkatkan kemampuan dianggapnya sebagai permainan sesuai dengan perjalanan waktu, dan kesediaannya menghadapi tantangan baru diperoleh karena sebelumnya ia pernah menghadapi tantangan dan berhasil.  Hal ini berlaku bagi anak yang masih kecil, juga orang dewasa.  Jumlah tantangan yang telah diatasi anak kecil lebih sedikit dibanding sebagian besar orang dewasa.

Anak yang dulunya suka duduk di atas mesin penghisap debu sewaktu ibu atau ayahnya sedang membersihakn rumah menjadi anak yang dengan sukarela membersihkan rumah dengan mesin penghisap debu ketika ia lebih besar.  Permainan berubah menjadi pekerjaan.

Anak yang tinggal bersama orang tua yang menganggapnya tidak kompeten, maka kesediaannya untuk bekerja akan terpengaruh oleh anggapan bahwa ia tidak dapat mengerjakannya dengan baik.  Selain itu, apabila anak tersebut telah sejak awal diharapkan untuk mengerjakannya sebaik orang dewasa, ia tidak akan pernah mencapainya tanpa berjuang keras.

Lebih mudah mengajar anak bekerja apabila Anda menganggapnya kompeten.  Hal ini membuat anak menganggap dirinya kompeten.  Anak yang menganggap dirinya kompeten berani mengambil resiko, yang merupakan anugerah bagi sebagian orang tua, dan merupakan hukuman bagi sebagian besar orang tua yang lain.


Motivasi mereka untuk meningkatkan kemampuannya sangat besar, oleh sebab itu ia melakukan tugas baru dengan mudah.  Baginya, batas antara permainan dan pekerjaan tidak jelas, berkat upayanya ia telah belajar meraih keberhasilan.  Ia mempercayai kemampuannya mengatasi hambatan tanpa harus cepat-cepat meminta bantuan orang tua.

Tips Cara Mendidik Anak : Pekerjaan Lawan Bermain

Tips cara mendidik anak kali ini adalah bagaimana membedakan antara bekerja dan bermain. Dalam masyarakat banyak dewasa ini, anak tidak mempunyai gambaran sedikitpun mengenai apa artinya bekerja.  Tampaknya banyak remaja yang tidak mengetahui cara mendapatkan pekerjaan serta mempertahankannya.   Mereka juga tidak menyadari tanggungjawab yang menyertai pekerjaan.  Kian hari tampaknya kian banyak kedua orang tua yang bekerja, sehingga waktu bermain semakin sedikit, baik bagi orang tua maupun anak.  Hal ini dapat menciptakan berbagai masalah.

Permainan yang bebas, tidak terlarang dan terbuka diperlukan bagi perkembangan masa kanak-kanak yang sehat.  Disamping itu, anak membutuhkan banyak permainan semacam itu.  Namun demikian, anak juga perlu mengembangkan etika kerja sebagai persiapan bagi tanggung jawab di masa dewasa kelak.

Apabila orang tua dalam kehidupan mereka sendiri merancukan hubungan antara pekerjaan dan permainan, bagaimana mereka dapat membantu anak menghadapi permasalahan ini ?.  Namun bagaimana hubungan antara pekerjaan dan permainan ?.

Permainan adalah segala sesuatu yang dikerjakan karena ia menyukainya.
Pekerjaan adalah segala sesuatu yang dikerjakan orang tanpa memandang perasaannya.
Kedua definisi sederhana ini dipenuhi implikasi yang mendalam.  Anda bekerja atau bermain tergantung pada perasaan Anda saat itu, bukan tergantung pada apa yang dilakukan.

Pernahkah Anda merasakan kepuasan yang besar seusai mengerjakan sesuatu yang menurut orang lain tidak menyenangkan untuk dikerjakan ?.  Apabila kita menyukai apa yang kita lakukan, maka pekerjaan tersebut akan lebih merupakan permainan ketimbang pekerjaan.

Inilah yang membedakan antara orang yang gila kerja dan pekerja keras.  Perbedaannya terletak pada perasaan mereka terhadap apa yang dikerjakan dan bukan pada waktu yang disediakan untuk itu.  Seberapa rumitnyapun suatu pekerjaan, apabila “mudah” dikerjakan, akan terasa sebagai permainan ketimbang pekerjaan.  Orang yang sangat sukses mendapatkan banyak kepuasan dari apa yang dikerjakannya tanpa memandang ganjaran materi yang diterimanya.


Senin, 06 Januari 2014

Cara Mendidik Anak Agar Percaya Diri : Mengakui Kemampuan Anak

Cara mendidik anak agar percaya diri salah satunya adalah dengan mengakui kemampuan anak dan menganggap anaknya kompeten dalam melakukan sesuatu.  Mengukur kemampuan seorang anak itu sulit.  Kadang-kadang anak bersikap seakan-akan tidak menggunakan akalnya atau otaknya; tetapi di lain waktu ia bertindak sedemikian bijaknya sehingga kita tidak dapat membayangkan dimana ia mempelajarinya.

Adakalanya kita memiliki kesabaran untuk mengajarkan suatu proses yang rumit kepada anak (seperti merapihkan tempat tidur); pada saat lain kita berharap ia akan mempelajari sendiri caranya.  Kadangkala kita memperlakukan anak seakan-akan ia sebuah boneka; pada kesempatan lain kita berharap ia memahami sesuatu yang kurang begitu kita pahami.

Tingkat kemampuan seorang anak selama masa perkembangan sulit ditentukan, karena performanya tidak konsisten.  Hal itu selanjutnya dihambat oleh sikap orang tua yang mengaburkan kemampuan anak yang sebenarnya.

Apakah Anda menginginkan anak untuk bersikap tidak kompeten ?.   Ada orang tua yang menginginkan anak mereka selamanya tergantung pada mereka supaya mereka merasa selalu dibutuhkan.  Adapula orang tua yang membutuhkan anak mereka bersikap kompeten, dengan demikian mereka sendiri akan merasa lebih kompeten.  

Sementara orang tua lain terlalu takut untuk mempercayai kemampuan anak, karena hal itu mengharuskan mereka membiarkan anak anak melakukan perbuatan yang mungkin membahayakan.  Orang tua lain tidak dapat membayangkan kemungkinan anak mereka lebih kompeten daripada mereka sendiri.  Ada banyak alasan mengapa orang tua perlu beranggapan bahwa anak mereka tidak kompeten.

Sebagian besar orang tua yang mempunyai masalah ini tidak mau mengakui bahwa mereka menganggap anak tidak kompeten.  Mereka menutupi anggapan ini dengan menyatakan bahwa anak mereka benar-benar kompeten, tetapi terlalu malas untuk hidup sesuai dengan potensinya ! Atau mereka beranggapan bahwa ia tidak kompeten sehingga orang tua tidak akan menuntut  terlalu banyak darinya.  Sebagian besar orang tua merasakan bahwa anak tidak cukup kompeten dalam hal mengurus diri.  Mereka mengutarakannya secara halus atau terang-terangan kepada anak.

Hasilnya anak yang dibuat merasa tidak kompeten berpikir bahwa orang tuanya meragukan kemampuannya.  Pada gilirannya, hal ini cenderung membuat anak meragukan dirinya.  Itu tidak sulit dipahami.  Hal seperti ini mungkin telah terjadi pada kita semua pada waktu tertentu.  Orang tua yang meragukan kemampuan anak mereka bisa jadi mendapat perlakuan yang sama dari salah seorang atau kedua orang tuanya.

Ciri-ciri Orang Tua Yang Menganggap Anak mereka Tidak Kompeten

·         Mereka tidak menyuruh anak melakukan apa saja yang dapat mengembangkan kemampuannya semaksimal mungkin.

·         Bilamana anak mencoba mengerjakan sesuatu yang baru dan gagal, ia tidak diberi waktu untuk membenahi diri dan menemukan jalan keluar dari kesulitan.

·         Orang tua menawarkan bantuan sebelum anak memintanya.

·         Orang tua tidak meluangkan waktu untuk mengajarkan ketrampilan baru yang rumit kepada anak.  Mereka beranggapan mengajarkan keterampilan baru yang rumit tidak bermanfaat.

·         Setelah semakin sering melihat bukti ketidak mampuan anak (anak bertingkah sebagaimana diharapkan orang tua), maka orang tua menjadi terlalu protektif dan membayangkan prospek hidup anaknya bahwa ia tidak akan mampu mengurus dirinya sendiri.

Cara mendidik anak agar percaya diri adalah dengan menganggap anaknya kompeten dalam melakukan sesuatu.

Ciri-ciri Orang Tua Yang Menganggap Anaknya Kompeten

·         Mereka tidak akan mendampingi anak sambil menanti kalau-kalau ada yang tidak beres.  Bilamana anak membuat kesalahan atau upayanya gagal, mereka lebih ingin mengetahui apa yang telah dipelajari anak ketimbang bagaimana mengoreksi anak.  Mereka bisa mengamati bagaimana anak berjuang  tanpa merasa harus ikut turun tangan.

·         Mereka tidak mencemaskan masa depan, maka mereka tidak menularkan kecemasan itu pada anak.
·         Mereka meminta anak mengerjakan sesuatu yang mungkin sulit tetapi masih mungkin dikerjakan anak sesuai dengan taraf perkembangan jasmani dan intelektualnya.

Meskipun Anda menganggap anak Anda kompeten, bukan berarti Anda dapat mengharapkannya berhasil mengerjakan segala hal.  Tidak seorangpun dapat berhasil dalam semua hal.  Salah satu ciri anak yang kompeten yaitu mampu belajar dari kesalahan.

Orang tua yang baik akan menerapkan cara mendidik anak agar percaya diri, ia selalu berpendapat bahwa anak mereka dapat belajar dari kesalahannya sendiri, cepat atau lambat, meyakinkan anak bahwa ia mampu.  Sifat yang sangat baik untuk dibawa sampai ia dewasa


Cara Mendidik Anak Yang Baik Dalam Keluarga : Pahami Cara Anak Mengatasi Masalah

Cara mendidik anak yang baik dalam keluarga salah satunya adalah memahami bagaimana cara anak mengatasi masalah.  Cobalah Anda perhatikan anak Anda. Umumnya anak-anak sangat banyak akalnya apabila diberi kesempatan memecahkan masalah tanpa campur tangan orang tua.  Anak cenderung memecahkan masalah dengan cara berhasil atau gagal; sambil mencari pemecahan yang bermanfaat, karena ia tidak mencari  pemecahan yang “tahan lama”.  Maka pemecahan yang seringkali diajukannya adalah konkret dan seketika, walaupun mungkin bukan merupakan jalan keluar yang “tepat” menurut pandangan orang tua.

Akan tetapi anak tidak peduli apakah pemecahan tersebut benar atau tidak; melainkan hanya apakah akan berhasil atau tidak.  Tetapi apabila orang tua mendesak anak agar mencari jalan keluar yang benar dan menolongnya mencari, anak secara tiba-tiba meragukan kemampuannya memecahkan masalah.

Bilamana anak meragukan dirinya, ia menghendaki bantuan orang dewasa.  Ia tidak hanya meminta, bahkan menuntut, merengek, menangis sambil marah-marah dan meyakinkan orang dewasa bahwa ia tidak cukup mampu mengurus diri.

Cara Mendidik Anak Yang Baik Dalam Keluarga : Mengetahui Kapan Harus Membantu

Bagaimana cara mengetahui bilamana anak membutuhkan bantuan ?.  Salah satu cara terbaik untuk mengetahuinya setelah anak belajar berbicara adalah dengan menanyainya.  Anak yang merasa percaya diri akan sering mengatakan bahwa ia tidak butuh bantuan.  Ia mungkin menemukan jalan keluar yang dapat memecahkan masalahnya sesuai dengan standar yang ditetapkan bagi dirinya.  Ia mempelajari standar yang lebih tinggi dari mengawasi orang lain memecahkan masalah dengan hasil yang lebih baik. Standar akhirnya mencerminkan standar yang Anda praktekkan, dan tidak mendekati standar yang Anda katakan.

Apabila Anda menginginkan anak memiliki standar mutu yang tinggi, milikilah sendiri terlebih dahulu.  Tetapi harap bersabar ! Anak akan berupaya mencapai standar tersebut lebih lambat dari yang Anda kehendaki.  Setidaknya bersyukurlah sebab ia mau berupaya.

Apabila anak mengatakan bahwa ia membutuhkan bantuan, maka pertanyaan selanjutnya yang harus ditanyakan adalah, “Bantuan apa yang kau inginkan dari saya ?”.  Anak yang berpengalaman dalam meminta bantuan biasanya akan mempunyai jawaban yang masuk akal.  Anak yang terlalu banyak dibantu mengalami kesulitan menjawab, karena ia belum menganalisis apa yang dibutuhkannya untuk menyebutkan sumber daya yang tidak dapat disediakannya sendiri.

Apabila Anda menanyai anak mengapa ia ingin dibantu, Anda juga berhak merundingkan apabila permintaannya terlalu banyak.  Anak perlu mengetahui sejak usia dini bahwa ia tidak selalu mendapatkan bantuan sewaktu ia menghendakinya.  Dengan bersikap selektif menolong, anak Anda akan belajar mempunyai lebih banyak akal.

Kadang-kadang anak mencoba mencari jalan keluar bagi masalah yang terlalu rumit bagi ketrampilannya.  Satu atau dua hal akan terjadi.  Ia akan memutuskan bahwa masalah tersebut tidak cukup berarti baginya untuk membuatnya bingung, lalu ia mencari kegiatan lain.  Kemungkinan lain ia akan memperlihatkan rasa frustasi dan rasa tidak senangnya.

Dalam hal pertama, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa menghindari masalah bukanlah bukti kelemahan karakter.  Anak yang sehat akan menemukan banyak hal untuk dilakukan.  Mengapa anak tidak berhak memutuskan bahwa sesuatu tidak cukup penting untuk membuatnya kebingungan ? Padahal orang tua selalu bersikap seperti itu.

Apabila anak nampak frustasi, tanyakan kepadanya apakah ia ingin dibantu.  Ia mungkin mengatakan tidak, tetapi terus merasa frustasi dan tidak menemukan jalan keluar.  Setelah frustasi bertumpuk, sebagian besar orang tua akan campur tangan untuk membantu memecahkannya serta mengobati rasa frustasinya. 

Orang tua yang lebih baik hanya akan mengingatkan anak bahwa mereka bersedia membantu apabila ia mau.  Orang tua yang lebih baik memberi anak kesempatan untuk belajar minta tolong dan memantau kemampuan anak mengatasi frustasi.  Orang tua yang lebih baik dapat menahan diri untuk tidak memperlihatkan keresahan mereka sewaktu menyaksikan anak menderita akibat masalah yang berat.

Meminta bantuan adalah keterampilan yang kompleks dan dibutuhkan waktu lama untuk melakukannya dengan baik.  Yang sering terjadi adalah orang meminta pertolongan disaat ia tidak membutuhkannya atau sebaliknya ia tidak memintanya pada waktu membutuhkannya.  Oleh karenanya akan lebih baik mempelajari keterampilan ini secara efektif sejak usia dini dan dalam hal ini diperlukan cara mendidik anak yang baik dalam keluarga.


Anak dapat mempelajarinya asalkan Anda dapat menahan diri dengan tidak membantunya kecuali bila ia meminta secara khusus.  Apabila Anda berbuat demikian, Anda akan melihat perilaku anak akan berubah secara dramatik.  Ia menjadi lebih mandiri, percaya diri dan tidak begitu merepotkan Anda.